mimbarmaritim.id (Denpasar)
Siapa sangka, tumpukan sampah organik di area pelabuhan bisa diolah berubah menjadi pupuk bernilai tinggi yang dapat menyuburkan taman – taman hijau di Bali..? Inovasi inilah yang saat ini tengah dijalankan PT Pelindo Daya Sejahtera (PDS) melalui program pengolahan sampah organik berbasis maggot di Pelabuhan Benoa, Bali.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen manajemen PT PDS dalam mewujudkan green port dan menghadirkan layanan ramah lingkungan di seluruh wilayah kerja Pelindo Grup. Melalui inisiatif ini, PT PDS tidak hanya menjaga kebersihan area pelabuhan, tetapi juga menciptakan rantai manfaat baru, dari penguraian sampah, pemberdayaan petugas kebersihan, hingga produksi pupuk organik yang kembali memperkaya lingkungan.
Setiap hari, petugas kebersihan PDS Regional Bali Nusra memilah sampah organik yang berasal dari kantin, kapal, gudang logistik, dan area publik pelabuhan. Sampah basah yang terkumpul rata-rata mencapai 80 kilogram per hari kemudian diolah di media biokonversi (kandang maggot) selama 1 hingga 2 minggu.

Hasilnya, maggot (larva lalat Black Soldier Fly) mengurai limbah menjadi bahan organik yang kaya nutrisi. Sisa penguraiannya, dikenal sebagai frass, digunakan sebagai pupuk organik untuk mendukung penghijauan di area Pelabuhan Benoa dan Taman Segara Kerthi, Denpasar. Dalam sebulan, program ini mampu menghasilkan 2 hingga 6 ton kompos organik.
Maggot adalah larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia illucens) serangga yang dikenal efisien dalam mengurai sampah organik tanpa menimbulkan bau atau penyakit. Mereka mengonsumsi limbah dapur, sisa makanan, dan bahan organik lainnya, mengubahnya menjadi pupuk alami serta sumber protein tinggi yang juga bisa dimanfaatkan di sektor pertanian dan peternakan. Dengan memanfaatkan maggot, proses penguraian sampah berlangsung lebih cepat, efisien, dan ramah lingkungan. Sebuah langkah nyata menuju penerapan prinsip ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah berkelanjutan di lingkungan pelabuhan.
“Program pengolahan sampah organik berbasis maggot ini menjadi wujud nyata dukungan PT Pelindo Daya Sejahtera terhadap program Pemerintah Provinsi Bali dalam optimalisasi pengelolaan sampah. Selain menekan volume sampah yang berakhir di TPA, langkah ini juga memperkuat posisi Pelabuhan Benoa sebagai pelabuhan hijau yang berkomitmen terhadap keberlanjutan lingkungan,” demikian dijelaskan Regional Manager PDS Regional Bali Nusra Dani Setiawan melalui keterangan resmi diterima redaksi Mimbar Maritim, Selasa (28/10/2025).

Dani mengatakan dengan pendekatan yang menyatukan inovasi, kepedulian, dan keberlanjutan, PDS membuktikan bahwa solusi lingkungan bukan hanya tentang pengelolaan limbah, tetapi juga tentang membangun masa depan yang lebih bersih, produktif, dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami percaya setiap tindakan kecil dalam pengelolaan sampah membawa dampak besar bagi lingkungan. Program maggot ini bukan hanya tentang kebersihan, tetapi tentang tanggung jawab dan kontribusi nyata menuju pelabuhan yang hijau dan berkelanjutan,” pungkas Dani.
Tentang PT Pelindo Daya Sejahtera:
PT Pelindo Daya Sejahtera (PDS) merupakan cucu perusahaan dari PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak dalam bidang penyediaan tenaga alih daya dan pemborongan, serta layanan pendukung bisnis. Dengan jumlah pekerja mencapai lebih dari 18.000 orang, area kerja PT PDS tersebar di 32 provinsi. PDS telah memperoleh sertifikat mutu ISO 9001:2015 sebagai quality management system perusahaan, sertifikasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan ISO 37001:2016 (SMAP) dan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) serta telah memperoleh penghargaan Zero Accident Award dari Kemenaker RI dan Disnakertrans Provinsi Jawa Timur.(Red-MM).
