
Mimbar Maritim – Jakarta
Satya Wira Jala Dharma. Dalam lanjutan latihan peperangan elektronika (Pernika) tahun 2020, Prajurit Komunikasi elektronika Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) melaksanakan latihan dengan tetap menerapkan physical distancing. Dengan cara menggunakan sarana video conference di lingkungan Mako Kolinlamil, Tanjung Priok Rabu (1/4/2020).Latihan ini, diikuti oleh 23 orang prajurit Komlek Kolinlamil terdiri dari Personel Staf Diskomlek Kolinlamil, Unsur KRI Satlinlamil Jakarta dan Satlinlamil Surabaya yaitu KRI Banda Aceh 593, KRI Banjarmasin 592, KRI Teluk Amboina 503, KRI Teluk Hading 538, KRI Teluk Manado 537 dan KRI Mentawai 959.
Kegiatan yang dipimpin Kepala Dinas Komunikasi dan Elektronika (Komlek) Kolinlamil tersebut bertujuan mengasah kemampuan prajurit Komlek Kolinlamil untuk mengawaki kesenjataan elektronika. Dalam mencegah keuntungan musuh dan memastikan teman tidak terhalang akses ke spektrum elektromagnetika.

Selain itu, dia juga mengharapkan kepada seluruh prajuritnya untuk mengasah dan sering diberikan pelatihan mengenai Peperangan Elektronika yang merupakan bidang dari kesenjataan Diskomlek Kolinlamil.
Lebih lanjut, Kadiskomlek Kolinlamil menyampaikan bahwa peperangan elektronik mengacu pada tindakan yang melibatkan penggunaan spektrum elektromagnetik atau energi yang diarahkan. Untuk mengendalikan spektrum, menyerang musuh, menghalangi serangan musuh melalui spektrum.
Menurut dia, bahwa tujuan dari peperangan elektronik yaitu untuk mencegah keuntungan musuh dan memastikan teman tidak terhalang akses ke spektrum elektromagnetik.
“Peperangan elektronik bisa dilakukan melalui udara, laut, darat, dan luar angkasa baik dengan alat yang berawak maupun tidak berawak dan dapat menarget manusia, komunikasi, radar dan atau aset yang lain,”terangnya.
Kasubdisbinkom Diskomlek Kolinlamil Mayor Laut (P) Agung Ariwibowo dan Kasubdishar Mayor Laut (E) Catur Turus Wibowo pada kesempatan itu menjelaskan bahwa peperangan elektronik terbagi 3 bagian besar yaitu serangan elektronik, perlindungan elektronik dan bantuan peperangan elektronik.
Dikatakannya, bahwa serangan elektronik termasuk penggunaan energi elektro magnetik atau senjata anti radiasi yang ditujukan untuk menyerang fasilitas perorangan, atau peralatan yang bisa menetralkan atau menghancurkan kemampuan bertempur musuh.
Serangan elektronik ini katanya bisa dideteksi oleh musuh, tergantung dari level kecanggihan teknologi dan tingkat deteksi, banyak teknologi serangan elektronik yang tergolong rahasia tinggi.
Menurut dia, contoh dari serangan elektronik termasuk jamming komunikasi, penyerangan untuk display radar, serangan laser, decoy (flare dan chaff), dan alat peledak yang bisa diremote.
“Sedangkan perlindungan elektronik yaitu tindakan perlindungan untuk melindungi personel, fasilitas, dan peralatan dari segala efek serangan elektronik dari teman ataupun musuh. Contohnya penggunaan perlindungan elektronik ialah penggunaan teknologi spektrum yang menyebar atau penggunaan daftar frekuensi yang dilarang, dan observasi yang diam-diam,”tuturnya.
Ditambahkannya, bantuan peperangan elektronik yaitu tindakan yang ditugaskan atau diperintah langsung dari komando lapangan. Untuk mencegah, mengidentifikasi, dan menemukan sumber yang disengaja maupun tidak mengelurakan radiasi elektromagnetik. Yang bertujuan sebagai ancaman, atau dianggap berbahaya bagi operasi yang berjalan.
Panglima Kolinlamil Laksda TNI Ahmadi Heri Purwono, S.E., M.M pada kesempatan itu juga menginstruksikan agar seluruh prajurit Komlek Kolinlamil wajib menguasai kemampuan peperangan elektronika. Untuk menghadapi tuntutan tugas ke depannya agar dapat terlaksana dengan baik sehingga tidak mengecewakan Satuan.(Ody -Dispen Kolinlamil)
