
mimbarmaritim.id (Surabaya)
Mobilitas harian di Surabaya masih didominasi kendaraan pribadi. Di jam berangkat dan pulang kerja, jalanan penuh, waktu tempuh makin panjang, dan transportasi umum sering kali belum jadi pilihan utama. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong masyarakat untuk beralih ke transportasi umum sebagai bagian dari upaya menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan mengurangi beban energi nasional. Imbauan ini bukan hanya wacana, melainkan langkah strategis untuk menghadapi tantangan mobilitas perkotaan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya.
Dari titik itulah PT Pelindo Daya Sejahtera (PDS) melihat ada ruang yang bisa diisi. Bukan lewat kebijakan yang kaku, melainkan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian karyawan. Berangkat dari semangat mendukung kebijakan pemerintah sekaligus membangun budaya kerja yang lebih adaptif, PDS menggagas program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “Si Paling Transum”.
Program ini bukan hanya ajakan menggunakan transportasi umum, melainkan sebuah kampanye internal yang mencoba menggeser kebiasaan, pelan-pelan, tapi konsisten. Di tahap awal, gerakan ini menyasar pegawai manajemen PDS sebagai titik mula, dengan harapan bisa menular ke lingkungan kerja yang lebih luas.
Alih-alih dikemas secara formal, “Si Paling Transum” justru dibangun dengan nuansa kompetitif yang santai. Karyawan diajak untuk menggunakan transportasi umum dalam aktivitas berangkat dan pulang kerja, lalu mendokumentasikannya melalui tiket atau bukti perjalanan. Dalam periode satu bulan, karyawan dengan frekuensi penggunaan transportasi umum terbanyak akan mendapatkan apresiasi dari perusahaan.
Pendekatan ini terbukti cukup efektif. Sejak pertama kali berjalan pada Februari 2026, antusiasme karyawan mulai terlihat. Persaingan sehat antarpegawai muncul secara organik, bukan hanya soal siapa yang paling sering naik transportasi umum, tapi juga bagaimana mereka saling berbagi pengalaman, rute, hingga tips perjalanan yang lebih efisien.
Memasuki bulan ketiga pelaksanaan, program ini mulai membentuk pola baru di lingkungan kerja. Transportasi umum yang sebelumnya jarang dilirik, kini mulai menjadi bagian dari pilihan harian. Beberapa karyawan bahkan menjadikannya sebagai opsi utama, bukan lagi sekadar alternatif.
Sekretaris Perusahaan PDS, Parbianto Wibowo, menyebut bahwa perubahan bisa dimulai dari hal yang paling dekat dengan keseharian. “Nggak perlu langsung besar. Dari kebiasaan naik transportasi umum saja, kita sudah ikut ambil bagian, baik untuk mengurangi penggunaan BBM maupun menjaga lingkungan,” kata Parbianto Wibowo melalui keterangan resmi diterima redaksi Mimbar Maritim, hari ini Selasa (5/5/2026).
Menurut Dia, bagi manajemen PDS, langkah kecil ini menjadi cara sederhana untuk mengambil bagian dalam upaya yang lebih besar. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi bukan hanya berdampak pada efisiensi individu, tetapi juga berkontribusi pada penghematan BBM dan pengurangan emisi di tingkat yang lebih luas.
“Pada akhirnya, “Si Paling Transum” menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Ketika dorongan kebijakan bertemu dengan inisiatif di tingkat perusahaan, maka upaya menciptakan mobilitas yang lebih hemat energi dan berkelanjutan bukan lagi hanya sebagai imbauan, melainkan praktik yang benar-benar dijalankan,” pungkas Parbianto Wibowo.(Red-MM).
