

mimbarmaritim.id (Jakarta)
PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) bersama Kementerian Perhubungan melaksanakan Workshop Safety Training di atas KM Bukit Raya pada rute Jakarta – Kijang tanggal 16 – 18 September 2026 dengan tema “Kesiapan Awak Kapal dalam Menghadapi Situasi Darurat”. Kegiatan ini merupakan rangkaian pelatihan keselamatan sebagai upaya PELNI memperkuat kompetensi dan kesiapan awak kapal dalam menghadapi berbagai kondisi darurat selama pelayaran.
Sepanjang Tahun 2026, PELNI menargetkan pelaksanaan safety training pada 14 kapal penumpang. Hingga September Tahun 2026, sebanyak 9 kapal telah melaksanakan pelatihan keselamatan, dan ditargetkan selesai sebelum periode Natal dan Tahun Baru di mulai.
Sekretaris Perusahaan PELNI Ditto Pappilanda mengatakan pelaksanaan safety training dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan awak kapal memiliki pemahaman dan kesiapan dalam menghadapi berbagai kondisi darurat selama pelayaran.
“Keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasional PELNI. Karena itu, kami terus memastikan awak kapal mendapatkan pelatihan yang dilakukan secara berkala, sehingga kesiapan menghadapi kondisi darurat dapat terus terjaga,” kata Ditto Pappilanda kepada awak media di Jakarta, Selasa (22/9/202022).
Ditto menjelaskan adapun program safety training PELNI dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan. Pada Tahun 2025, safety training telah dilaksanakan pada 20 kapal penumpang. Program tersebut kembali dilanjutkan pada Tahun 2026 dengan target 14 kapal penumpang, sebelum diteruskan pada Tahun 2027 untuk sisa armada yang belum mendapatkan pelatihan.
Pada Tahun 2027, pelaksanaan safety training akan dilanjutkan pada 12 kapal penumpang dan 9 kapal barang. Dengan pelaksanaan secara bertahap tersebut, PELNI memastikan program pelatihan keselamatan dapat menjangkau armada secara menyeluruh.
Selain safety training, seluruh awak kapal dari berbagai jenjang jabatan juga sudah memiliki sertifikasi keselamatan yang menjadi bagian dari kompetensi dasar dalam menjalankan tugas di atas kapal. Sertifikasi tersebut meliputi Basic Safety Training (BST) sebagai pelatihan dasar keselamatan dan penanganan keadaan darurat di kapal, Advanced Fire Fighting (AFF) untuk penanganan dan pemadaman kebakaran di kapal.
Selain itu adapula Survival Craft and Rescue Boat (SCRB) untuk pengoperasian sekoci dan rescue boat, Medical First Aid (MFA) untuk penanganan dan pertolongan medis pertama di atas kapal serta Security Awareness Training (SAT) untuk meningkatkan kesadaran awak kapal terhadap berbagai ancaman di kapal dan tindakan yang perlu dilakukan untuk menjaga keamanan kapal.
Pelaksanaan safety training juga melibatkan pembekalan dan praktik terkait kesiapan awak kapal dalam menghadapi situasi darurat. PELNI bersama Kementerian Perhubungan juga sudah melaksanakan Workshop Safety Training di atas KM Bukit Raya pada rute Jakarta – Kijang tanggal 16–18 September 2026 dengan tema “Kesiapan Awak Kapal dalam Menghadapi Situasi Darurat”.
Kegiatan tersebut ditujukan untuk memperkuat pemahaman awak kapal terhadap tugas dan tanggung jawab dalam kondisi darurat serta meningkatkan koordinasi antara nakhoda, perwira dan seluruh awak kapal.
Ditto menambahkan pelatihan keselamatan tidak hanya dilakukan melalui pembekalan materi, tetapi juga diarahkan pada praktik dan simulasi agar awak kapal dapat memahami penerapan prosedur keselamatan secara langsung.
“Kami ingin memastikan setiap awak kapal dapat memahami tugas dan tanggung jawabnya, mampu berkoordinasi dengan baik, serta siap menerapkan prosedur keselamatan ketika menghadapi kondisi darurat,” tutup Ditto.
Melalui pelaksanaan safety training secara berkelanjutan hingga Tahun 2027, PELNI berkomitmen menjaga kesiapan sumber daya manusia sekaligus memperkuat budaya keselamatan di seluruh armada perusahaan.(Red-MM).
