mimbarmaritim.id (Jakarta)
Dalam rangka meningkatkan keselamatan pelayaran kapal berbendera Indonesia, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melalui Keputusan Dirjen nomor KP 327 Tahun 325 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengujian dan Sertifikasi Perlengkapan Kapal dan Komponen Kapal, menerapkan mekanisme maker to maker bagi proses perawatan inflatable liferaft (sekoci tiup). Mekanisme maker to maker ini mewajibkan perawatan liferaft hanya dilakukan oleh Service Station yang mendapatkan approval/penunjukan dari Kantor Balai Teknologi Keselamatan Pelayaran (BTKP) dan manufaktur. Implementasi maker to maker ini merupakan amanah dari Resulusi IMO MSC 761(18) tentang Recommendation on Condition for the Approval of Servicing Station for Inflatable Liferaft (Rekomendasi tentang Syarat Persetujuan Stasiun Pelayanan untuk Rakit Penolong Tiup).
“Implementasi maker to maker ini diawali dengan pilot project yang berlangsung sejak Juli -Desember 2025 dengan melibatkan 3 perusahaan pelayaran yaitu PT. Pertamina Internasional Shipping (PIS), PT. Pelayaran Indonesia (Persero)/ Pelni dan PT ASDP. Sementara per awal November 2025, terdapat 4 (empat) manufaktur liferaft yang telah mendapatkan Type Approval dari Direktur Jenderal Perhubungan Laut cq Balai Teknologi Keselamatan Pelayaran (BTKP), yaitu Survitec (RFD, Surviva), Shanghai Star Rubber (CSM), Jiangsu Haining dan Youlong. Dalam penerapannya, apabila pada armada yang dimiliki oleh PT. PIS, PT.Pelni dan PT.ASDP menggunakan brand yang sudah mendapatkan Type Approval tersebut, maka perawatannya wajib dilakukan oleh approved service station dari masing-masing manufaktur,” demikian dijelaskan Kepala Balai Teknoligi Keselamatan Pelayaran Capt.Indang Noerkajati, S.ST, M.M didampingi Kepala Seksi Rancang Bangun Dini Novitasari,S.T, M.H, kepada Mimbar Maritim, diruang kerjanya, Kamis (6/11/2025) kemarin.
Capt.Indang menyebutakan adapun Service Station yang memiliki penunjukan dari CSM adalah PT. Surya Segara Safety Marine dan PT Segara Permai. Sementara penunjukan dari Jiangsu Haining dimiliki oleh PT. Surya Sejati Sejahtera, PT. Adi Cipta Bahari, PT. Global Marinedo Safety. Sedangkan Survitec menunjuk PT. Surya Segara Safety Marine dan PT. Segara Permai sebagai authorize service providernya. Shanghai Youlong Rubber juga memberikan authorization kepada PT. Baruna Indo Nusa, PT. Batam Marine Indobahari, PT. Destini Marine Safety, PT. Global Marinedo Safety Indonesia, PT. Semangat Semesta Marine Technology dan PT. Segara Permai.

“Melalui pilot project ini beberapa penyesuaian harus dilakukan baik itu dari pihak pemilik kapal atau pun service station untuk dapat melaksanakan mekanisme maker to maker tanpa menghambat jadwal operasional kapal,” ucapnya.
Capt.Indang juga mengungkapkan pada Rabu, tanggal 29 Oktober 2025 yang lalu, Kantor BTKP telah menggelar rapat evaluasi ke 4 atas implementasi maker to maker ini. Rapat dilaksanakan di Balai Teknologi Keselamatan Pelayaran dan dihadiri perwakilan Direktorat Perkapalan dan Kepelautan, perusahaan pelayaran peserta pilot project, yaitu PT PIS, PT Pelni dan PT ASDP serta authorized service station dari masing-masing manufaktur. Selain itu, hadir juga perwakilan Kantor Kesyahbanadaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas I Banten serta perwakilan dari PPAKPI dan ASPESINDO.
Ia menambahkan dalam rapat evaluasi ini dibahas mengenai tantangan yang ada serta beberapa solusi yang memungkinkan diambil oleh pemilik kapal, antara lain dengan melakukan perpanjangan sertifikat resinspeksi liferaft apabila kapal sandar di lokasi yang tidak tersedia authorized service station atau melakukan liferaft exchange.

“Tentunya hal ini harus diawali dengan adanya perencanaan perawatan yang memadai dengan memperhitungkan posisi kapal serta posisi authorized service station. Dari hasil evaluasi ini sampai akhir oktober 2025, sudah 40% dari kapal yang ada mampu menerapkan maker to maker dalam perawatan liferaft nya,” pungkas Cap.Indang.
Sementara, Kasie Rancang Bangun Dini Novitasari menambahkan kegiatan rapat evalusi maker to maker ini menjadi bagian dari upaya BTKP untuk memastikan bahwa peralatan keselamatan pelayaran yang digunakan di Indonesia tidak hanya sesuai dengan standar internasional, tetapi juga teruji efektivitasnya di kondisi operasional nyata.
Dini mengatakan kolaborasi dengan PT ASDP, PT.Pelni dan Pertamina diharapkan memperkuat penerapan maker to maker dalam peningkatan keselamatan khususnya dalam perawatan dan perbaikan Inflatable Liferaft sebagai keandalan sarana penyelamatan jiwa di laut.
“Melalui inisiasi pilot project ini, BTKP menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan keselamatan di bidang Pelayaran untuk mewujudkan transportasi laut yang aman, handal, dan sesuai dengan ketentuan internasional maupun regulasi nasional,” imbuh Dini.(Red-MM).
