mimbarmaritim.id (Surabaya)
Sebagai bentuk komitmen Pelindo Group dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) secara
berkelanjutan menghadirkan layanan kepelabuhanan yang ramah lingkungan.. Komitmen ini diwujudkan melalui berbagai inisiatif dekarbonisasi operasional serta konservasi ekosistem pesisir yang terintegrasi dalam strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan.
Diantara langkah nyata yang telah dijalankan TPS adalah transformasi penggunaan energi pada peralatan bongkar muat utama melalui program elektrifikasi alat. Program ini mengonversi penggunaan bahan bakar fosil menjadi energi listrik secara bertahap guna mendukung pengurangan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional terminal.
Inisiatif tersebut berjalan seiring dengan program konservasi mangrove yang telah dikembangkan TPS sejak tahun 2010 sebagai upaya mitigasi perubahan iklim serta wujud komitmen Pelindo Grup dalam menghadirkan layanan ramah lingkungan.
Sebagai keberlanjutan, pada tahun 2026 ini, TPS bersama Kelompok Petani Mangrove
Penggerak Konservasi Mandiri Lestari Sontoh Laut Surabaya kembali melaksanakan program pembibitan 15.000 bibit mangrove yang saat ini tengah dibudidayakan di area konservasi mangrove TPS.
Bibit-bibit tersebut diproyeksikan siap ditanam dalam waktu sekitar 8 (delapan)
bulan mendatang sebagai bagian dari rehabilitasi kawasan pesisir Surabaya.
Konservasi mangrove menjadi salah satu program lingkungan strategis TPS karena memberikan manfaat ekologis yang luas. Selain menjaga kelestarian ekosistem pesisir, mangrove berfungsi sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna, termasuk sejumlah spesies burung migran dan satwa yang dilindungi.
Berdasarkan hasil pengukuran manfaat pembibitan dan penanaman mangrove yang dilaksanakan oleh TPS pada tahun 2026 bekerjasama dengan Cempaka Foundation, diketahui bahwa kawasan mangrove TPS memiliki tingkat keanekaragaman hayati
yang tinggi serta kondisi vegetasi yang tergolong baik dan padat.
Dari aspek perubahan iklim, kawasan mangrove TPS juga berperan sebagai penyerap karbon alami (carbon sink) yang signifikan. Hasil pengukuran menunjukkan kawasan mangrove TPS mampu menyerap karbon sebesar 623,11 ton karbon per hektare atau setara 2.286,8 ton CO₂ per hectare atau setara operasiona 180 hingga 200 unit truk pengangkut internal setiap hari.
Hal ini menjadikan area konservasi mangrove TPS sebagai salah satu aset lingkungan penting dalam mendukung upaya dekarbonisasi dan target pembangunan berkelanjutan. Program mangrove TPS tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga menghadirkan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Melalui kerja sama dengan kelompok petani
mangrove, TPS memberdayakan masyarakat dalam proses pengadaan bibit, pemeliharaan,
pembesaran hingga kegiatan penanaman. Program ini menjadi sumber pendapatan alternatif yang sangat berarti bagi masyarakat pesisir sepanjang program dilaksanakan.
Di sisi lain, manfaat program ini juga dirasakan oleh para penerima bibit mangrove. Selain membantu memperkuat perlindungan pesisir dari abrasi dan banjir rob, penanaman mangrove turut mendukung peningkatan kualitas lingkungan, menjaga habitat biota laut, memperbaiki kualitas udara, serta menyediakan manfaat ekologis jangka panjang bagi generasi mendatang.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, mengatakan bahwa program pembibitan
mangrove merupakan bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan yang mengombinasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
“Sebagai bagian dari Pelindo Group, TPS berkomitmen menghadirkan operasional pelabuhan yang semakin hijau dan berkelanjutan. Upaya elektrifikasi alat bongkar muat serta konservasi mangrove merupakan strategi yang saling mendukung dalam upaya pengurangan emisi karbon.
Program pembibitan 15.000 mangrove ini bukan sekadar kegiatan penanaman pohon,
melainkan investasi lingkungan dan sosial yang manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat dalam jangkar panjang,” kata Erika Asih Palupi melalui keterangan resmi diterima redaksi Mimbar Maritim, Selasa (13/10/2026).
Erika menambahkan, setelah mencapai usia tanam sekitar delapan bulan, bibit mangrove
tersebut akan didistribusikan kepada berbagai pihak untuk mendukung rehabilitasi kawasan pesisir Surabaya. Melalui distribusi tersebut, TPS berharap program rehabilitasi mangrove dapat memberikan manfaat lingkungan yang lebih luas sekaligus memperkuat kolaborasi multipihak dalam menjaga ekosistem pesisir Surabaya.
“Perluasan area distribusi dan penanaman mangrove di wilayah pesisir Surabaya diharapkan mampu meningkatkan luas kawasan hijau pesisir, memperbesar kapasitas penyerapan karbon, memperkuat perlindungan pantai dari abrasi, serta memberikan dampak ekonomi dan sosial
positif bagi masyarakat pesisir yang terlibat dalam program konservasi mangrove,” kata Erika.
Menurut Erika, keberhasilan konservasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, melainkan dari besarnya dampak nyata yang dirasakan bagi lingkungan dan masyarakat.
“Dengan semakin luasnya kawasan mangrove yang terjaga, semakin besar pula kontribusi yang dapat diberikan TPS bagi kualitas lingkungan, ketahanan pesisir, dan keberlanjutan hidup generasi mendatang,” tutup Erika.(Red-MM).
