mimbarmaritim.id (Labuan Bajo)
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, menyampaikan perkembangan penanganan insiden kapal penumpang tradisional KM Feronia yang terbalik dan tenggelam di perairan Pulau Tatawa, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (13/10/2026) kemarin.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, mengatakan bahwa proses penyelamatan telah berjalan dan awak kapal berupaya maksimal untuk mengevakuasi seluruh penumpang dengan memanfaatkan liferaft atau rakit penolong.
“Setelah kapal terbalik, nakhoda segera membuka liferaft dan mengarahkan penumpang untuk naik ke rakit penolong. Berdasarkan informasi, liferaft dapat mengembang dengan baik dan digunakan dalam proses evakuasi. Awak kapal juga melakukan pengecekan jumlah penumpang untuk memastikan seluruh penumpang terdata,” ujar Stephanus.
Berdasarkan laporan awal, KM Feronia bertolak dari Pelabuhan Labuan Bajo pada pukul 07.00 WITA untuk menuju sejumlah lokasi penyelaman, yakni Pulau Sebayur, Tatawa Kecil, dan Manta Point. Saat dalam perjalanan kembali menuju Labuan Bajo sekitar pukul 14.30 WITA, kapal melintasi perairan Tatawa Kecil yang memiliki pusaran arus. Kapal kemudian terbalik hingga posisi lunas berada di atas dan selanjutnya tenggelam.
Saat kejadian, KM Feronia mengangkut 25 orang penumpang dan 5 orang awak kapal, termasuk nakhoda. Hingga saat ini satu penumpang masih dalam proses pencarian.
Upaya Pencarian Dilakukan secara Maksimal
Stephanus menjelaskan, bahwa setelah penumpang diarahkan naik ke liferaft, nakhoda melakukan pengecekan jumlah penumpang dan mendapati masih terdapat satu penumpang yang belum ditemukan dalam proses evakuasi.
Informasi awal yang diterima menyebutkan bahwa penumpang tersebut diduga berada di dalam toilet kapal ketika insiden terjadi. Dua instruktur selam yang telah menggunakan perlengkapan selam kemudian berupaya mencari dan membuka pintu toilet dari dalam air. Upaya dilakukan dengan menggedor dan mencoba mendobrak pintu menggunakan linggis selama kurang lebih tiga hingga empat menit, tetapi pintu tersebut tidak berhasil dibuka.
“Kami menerima informasi bahwa upaya penyelamatan telah dilakukan secara maksimal, termasuk oleh dua instruktur selam yang berusaha membuka pintu toilet tempat penumpang tersebut diduga berada. Namun, upaya itu belum berhasil dan kami terus memastikan pencarian terhadap satu penumpang yang belum ditemukan tetap menjadi perhatian utama,” kata Stephanus.
Stephanus menegaskan, proses evakuasi dan pencarian merupakan dua hal yang berjalan beriringan dalam penanganan insiden tersebut. Keberhasilan liferaft mengembang dan digunakan dalam penyelamatan menjadi bagian penting dari respons darurat, sementara pencarian terhadap penumpang yang belum ditemukan harus terus menjadi prioritas.
Koordinasi Lintas Instansi Terus Dilakukan
“Dalam penanganan insiden KM Feronia, KSOP Kelas III Labuan Bajo berkoordinasi dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Polair, TNI Angkatan Laut, serta unsur maritim lainnya seperti penyelam profesional dan NGO. Berdasarkan laporan awal, nakhoda juga meminta bantuan kapal cepat (speedboat) yang melintas di sekitar lokasi untuk membantu proses evakuasi penumpang yang berada di liferaft dan membawa mereka menuju Pelabuhan Labuan Bajo,” tutur Stephanus.
Selain pencarian terhadap satu penumpang yang belum ditemukan, penanganan juga mencakup pemantauan potensi pencemaran laut dan dampak terhadap lingkungan. Dalam laporan awal, tidak ditemukan indikasi pencemaran maupun kerusakan lingkungan akibat kejadian tersebut.
Stephanus mengimbau agar seluruh operator dan nakhoda kapal untuk senantiasa memperhatikan karakteristik perairan, kondisi arus, serta aspek keselamatan sebelum dan selama pelayaran. Nakhoda juga harus mengambil keputusan pelayaran secara cermat, terutama ketika menghadapi kondisi perairan yang berisiko.
“Kejadian ini menjadi pengingat bahwa keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas utama. Kesiapan peralatan keselamatan, kemampuan awak kapal dalam menghadapi keadaan darurat, serta kewaspadaan terhadap kondisi perairan merupakan hal yang sangat penting. Kami akan terus berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait dalam penanganan kejadian ini,” pungkas Stephanus.
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden ini dan berharap upaya pencarian dapat membuahkan hasil. Kementerian Perhubungan juga mengimbau seluruh operator dan awak kapal untuk senantiasa mengutamakan keselamatan pelayaran, memperhatikan kondisi perairan dan arus, serta memastikan seluruh perlengkapan keselamatan berada dalam kondisi siap digunakan sebelum kapal berlayar.(Red-MM).
