
mimbarmaritim.id (Tanjung Priok)
Terminal Petikemas (TPK) Koja meresmikan pengoperasian tiga unit Quay Container Crane (QCC) dan empat unit Electrical Rubber Tyred Gantry Crane (ERTG) dalam kegiatan New Equipment Inauguration bertema “Gearing Up For Greener Future”, hari ini Senin (15/12/2025). Peresmian digelar di Gedung TPK Koja, sebagai tonggak modernisasi peralatan bongkar muat terminal strategis di Pelabuhan Tanjung Priok.
Inaugurasi dilakukan secara simbolis oleh Corporate Secretary PT Pelabuhan Indonesia (Persero)/Pelindo Ali Sadikin, CEO Hutchison Ports Indonesia (HPI) Seto Baskoro, serta General Manager TPK Koja Banu Astrini dan kegiatan dihadiri Kepala KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, Executive General Manager (EGM) Pelindo Regional 1 Cabang Tanjung Priok Yandri Tri Saputra, KSOP Utama Tanjug Priok, Project Leader Delon Tumanggor, Asosiasi dan seluruh stakholders pelabuhan Tanjung Priok Kehadiran peralatan baru ini menandai komitmen pemilik saham TPK Koja Pelindo dan Hutchison Ports Indonesia dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan operasional terminal.
Banu Astrini dalan paparannya menjelaskan bahwa proyek pengadaan tiga unit QCC dan empat unit ERTG merupakan hasil proses panjang yang dimulai sejak fase perencanaan dan usulan pada 2017. Persetujuan pengadaan diperoleh melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) pada 2020 dan dilanjutkan dengan SKB berikutnya pada 2022. Proses tender dimulai Februari 2023, kontrak pengadaan ditandatangani pada April dan Mei 2024, serta pekerjaan fabrikasi dan pengujian dilakukan sepanjang tahun p2024 – 2025 dengan pengawasan konsultan PT Biro Veritas Indonesia.
“Pada batch pertama, TPK Koja telah mendatangkan dua unit QCC Super Post Panamax dan empat unit ERTG yang tiba pada tanggal 9 Desember 2025 dan sandar di KSO TPK Koja pada tanggal 12 Desember 2025. Satu unit QCC sisanya dijadwalkan tiba akhir Desember 2025,” ujar Banu. Seluruh peralatan akan melalui rangkaian commissioning test dan ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan Januari 2026.
QCC Super Post Panamax generasi terbaru ini memiliki jangkauan hingga 63 meter, mampu melayani kapal berkapasitas 22 rows container, dengan kapasitas angkat hingga 61 ton twin lift. Kecepatan hoisting mencapai 150 meter per menit, dua kali lebih cepat dibandingkan QCC Panamax lama. Sementara itu, ERTG yang dioperasikan menggunakan tenaga listrik dengan kapasitas 1 over 5 dan load rate 41 ton, dirancang untuk menekan emisi, kebisingan, serta konsumsi energi, sekaligus menurunkan biaya perawatan.
“Modernisasi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas bongkar muat dan efisiensi operasional lapangan, tetapi juga memperkuat daya saing TPK Koja serta kualitas layanan kepada pelanggan,” tambah Banu. Dia, menyebutkan pada Tahun 2026, TPK Koja ditargetkan mengoperasikan lima unit QCC Super Post Panamax dari total delapan unit QCC yang dimiliki.
Sementara itu, Project Leader Pelindo Delon Tumanggor mengatakan QCC Super Post Panamax generasi terbaru ini memiliki jangkauan hingga 63 meter, mampu melayani kapal berkapasitas 22 rows container, dengan kapasitas angkat hingga 61 ton twin lift. Kecepatan hoisting mencapai 150 meter per menit, dua kali lebih cepat dibandingkan QCC Panamax lama.
Sementara itu, ERTG yang dioperasikan menggunakan tenaga listrik dengan kapasitas 1 over 5 dan load rate 41 ton, dirancang untuk menekan emisi, kebisingan, serta konsumsi energi, sekaligus menurunkan biaya perawatan.
“Modernisasi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas bongkar muat dan efisiensi operasional lapangan, tetapi juga memperkuat daya saing TPK Koja serta kualitas layanan kepada pelanggan,” kata Delon.
Pada Tahun 2026, TPK Koja ditargetkan mengoperasikan lima unit QCC Super Post Panamax dari total delapan unit QCC yang dimiliki.
CEO Hutchison Ports Indonesia Seto Baskoro menegaskan bahwa kehadiran peralatan baru ini merupakan hasil kolaborasi erat antara Pelindo sebagai pemilik mayoritas, mitra bisnis, serta para pemangku kepentingan seperti KSOP, Bea Cukai, Karantina, dan aparat kepolisian.
“Hal ini bukan titik akhir. Setelah peralatan datang, tantangan berikutnya adalah meningkatkan produktivitas dan menetapkan parameter layanan baru agar Koja mampu bersaing dengan terminal lain di Tanjung Priok,” ujarnya.
Lebih jauh, Seto menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur perairan, khususnya pendalaman kolam pelabuhan hingga 16 meter MLWS, seiring tren peningkatan ukuran kapal yang dilayani. “Peralatan modern harus diimbangi dengan kedalaman kolam yang memadai agar potensi terminal dapat dimaksimalkan,” katanya.
Dengan investasi QCC dan ERTG berbasis teknologi ramah lingkungan, TPK Koja menegaskan langkah transformasinya menuju “Green Port” pelabuhan yang tidak hanya unggul secara operasional, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.(MM-Oddie).
