
mimbarmaritim.id (Surabaya)
Ridak banyak yang tahu bahwa di tengah riuh rendah Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara, ada penumpang yang hadir tanpa suara. Bukan karena tak ingin berbicara, tetapi karena cara mereka berkomunikasi berbeda. Berangkat dari kesadaran inilah PT Pelindo Daya Sejahtera (PT PDS) menggelar Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia sebagai bagian dari peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025, Rabu (3/12/2025).
Pelatihan ini diikuti 30 orang peserta, terdiri dari tim manajemen operasional PDS dan petugas frontliner seperti security dan cleaning service yang bertugas langsung melayani penumpang di area pelabuhan. Mereka adalah garda terdepan yang bersentuhan dengan ribuan pengguna jasa setiap harinya, dan kini dibekali kemampuan baru untuk memastikan bahwa komunikasi tidak lagi menjadi batas.
PDS sengaja menghadirkan narasumber yang bukan hanya memahami teori, tetapi menghidupi Bahasa Isyarat sebagai bahasa utama dalam kesehariannya. Pelatihan dipandu langsung oleh Teman Tuli dari Pusat Bahasa Isyarat Indonesia. Adhien Fadhli, Koordinator Pusbisindo, membuka sesi dengan pemahaman mendasar tentang kultur Tuli dan prinsip-prinsip komunikasi visual yang menghargai.
Sesi dilanjutkan oleh Ernasta Oktaviyani, Guru Bahasa Isyarat, yang memperkenalkan teknik-teknik komunikasi BISINDO dan praktik berinteraksi yang benar dengan pengguna bahasa isyarat. Kehadiran keduanya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih autentik, humanis, dan membukakan cara pandang baru bagi peserta bahwa aksesibilitas bukan bentuk kebaikan tambahan, melainkan standar layanan yang adil dan setara bagi semua.
Frasa “disabilitas tidak selalu tampak” menjadi refleksi penting dalam pelatihan ini. Banyak teman Tuli yang secara fisik tampak sama seperti orang pada umumnya, sehingga kebutuhan komunikasinya kerap tidak terbaca. Melalui program ini, PDS berupaya memastikan bahwa setiap penumpang, dengan cara komunikasi apa pun, mendapatkan layanan yang setara, layak, dan bermartabat.
Direktur Utama PDS, M. Fatkhurroji, mengatakan komitmen PDS tersebut karena pelabuhan adalah ruang publik yang harus bisa menyambut semua orang. Pelatihan Bahasa Isyarat ini bukan sekadar peningkatan kompetensi, tetapi langkah nyata untuk memastikan tidak ada penumpang yang terlewat hanya karena cara komunikasinya berbeda. Inklusivitas bukan tren, ini adalah standar layanan yang ingin terus PDS bangun.
Pada sesi perdana, peserta diperkenalkan pada materi dasar yang menjadi pondasi komunikasi, mulai dari: pengenalan huruf dan angka dalam BISINDO, sapaan dan ekspresi dasar, teknik komunikasi yang menghargai lawan bicara Tuli, hingga simulasi percakapan sederhana dalam skenario pelayanan kepelabuhanan. Suasana belajar dibuat interaktif : peserta tidak hanya mempelajari isyarat, tetapi juga memahami etika berkomunikasi dengan Tuli, mulai dari pentingnya kontak mata, penggunaan mimik wajah, hingga bagaimana memanggil perhatian dengan cara yang tepat.
Pelatihan ini sekaligus menjadi langkah strategis PDS dalam menyongsong arus Natal dan Tahun Baru (Nataru), periode di mana aktivitas penumpang meningkat signifikan. Dengan kompetensi baru ini, PDS memastikan bahwa tidak ada penumpang yang tertinggal dalam komunikasi, terutama pada momen perjalanan yang padat dan penuh dinamika. Bahasa Isyarat menjadi jembatan yang memperkuat kesiapan pelayanan PDS, sekaligus menunjukkan bahwa transformasi layanan tidak hanya berbicara soal teknologi, tetapi juga tentang kepedulian dan keberpihakan pada manusia.
Melalui Pelatihan Bahasa Isyarat ini, PDS menegaskan komitmennya bahwa inklusivitas bukan sekadar tema tahunan, melainkan arah pembangunan layanan jangka panjang. Pelabuhan adalah ruang publik, dan sudah seharusnya menjadi ruang yang ramah, terbuka, dan dapat diakses oleh semua orang.(Red-MM).
